Untuk Bulan, dan Kamu, di Akhir Tahun
- zain syalsabila

- Feb 3, 2018
- 2 min read

Terulang kembali 365 hari kali ini. Mengulang kembali hari- hari yang tak kuingini, karena kisah yang pilu di hati. Aku memang harus terus lewati hari, tanpa mengenang yang lalu lagi.
Yah…
Aku tak tau lagi bagaimana harus menyikapi bulan yang terus- terusan berputar itu. Apakah dia tidak lelah meratapi bumi yang menduakannya dengan matahari?! Mungkin bulan sudah cinta, karena cinta itu buta, bukan? Tapi apakah kau sadar, bulan… sesuatu yang membutakan itu sesat. Cukuplah. Jangan terlalu cinta. Tenggelam dalam cinta yang bukan milik-Nya akan sangat menyakitkan. Dan taukah kau bulan, hal ini juga terjadi kepadaku. Tahun lalu. Jangan ikuti jejakku. Terlalu sesat. Nanti kau tenggelam di dasar laut paling dalam. Bertemu kembali dengan makhluk paling ganas di bumi, kau tahu apa? namanya kenangan. Ia mirip seperti ubur- ubur, tapi sengatannya jauh lebih kuat. Mirip seperti ikan paus, tapi jauh lebih besar. Dan juga mirip seperti hiu, tapi lebih ganas….
Jadi, daripada tenggelam seperti itu, lebih baik kau temani aku saja. Setiap malam aku selalu terbangun oleh suara- suara di kepalaku. Menyuruhku untuk cepat- cepat bersiap. Kau tahu bersiap untuk apa? untuk bercerita. Malam hari adalah waktu yang sangat tepat untuk bercerita dengan-Nya, mencurahkan semua isi di dada, agar cepat lega. Ternyata bercerita dengan-Nya begitu mengasyikkan, bulan. Kau harus coba. Seperti sedang dimabuk cinta, aku ketagihan. Aku jadi ingin terus mencinta dengan-Nya. Semua kesahku seolah terlenyapkan, dan semua harapanku seolah tak kembali digantungkan.
Tahun lalu, mungkin jadi tahun keterpurukan bagiku. Yang kudengar hanya rayu, dengan berbagai kebohongan sebagai bumbu. Terasa pilu, tapi inilah akhir tahunku. Penuh dengan tangis sendu, diiringi suara kikisan hati yang ngilu. Namun aku mencoba menumbuhkan harapan baru. Semoga apa yang menimpaku, kini jadi tumpuan berdiriku. Terimakasih, kamu.





Comments