Short Story- Maaf
- zain syalsabila

- Jul 17, 2021
- 6 min read
Updated: Sep 1, 2022
Cerita yang kutulis nyaris 9 tahun lalu. Masih SMA. Baru lulus SMP. Dan ngefans berat dengan semua buku Kecil Kecil Punya Karya (KKPK). Hahahah semoga di ternostalgia cerita cinta anak 2000an yah, enjoy!🤗
-
Elena mengibaskan rambutnya yang panjang, dan kemudian mengikatnya menjadi satu. “Kamu gak gerah apa punya rambut panjang kayak gitu?” Tanya Nia, sahabatnya. “Harus dibetahin lah. Kan Romi suka sama cewek yang rambutnya panjang, hahaha…” Nia hanya menggelengkan kepalanya pelan. “Kamu kan tau, Romi itu udah ada pacarnya, masa iya kamu ambil juga. Masih banyak hal yang perlu kamu pikirkan daripada Romi kan…” Elena tak menghiraukan kata-kata Nia, ia hanya diam sambil menyisir rambutnya dengan tangan seraya berjalan pergi.
Ini adalah saat yang ditunggu-tunggu Elena. Romi akan menyampaikan informasi sekolah di depan para siswa, selaku ketua OSIS. “Selamat Pagi semua. Saya disini selaku ketua OSIS diperintahkan oleh para guru untuk…” Dengan tatapan yang dalam, Elena memperhatikan Romi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Menurut Elena, Romi adalah lelaki paling sempurna yang pernah ia lihat. Sampai-sampai Elena tidak mendengarkan apa yang Romi sampaikan. “Len, Lena!” Nia mengayun-ayunkan tangannya di depan wajah Elena. Ia gemas, setiap kali Romi menyampaikan sesuatu di depan para siswa, selalu saja Elena memperhatikan wajah Romi, bukan apa yang dikatakan oleh Romi. Penting atau tidaknya informasi yang diberitahukan Romi, Elena tidak peduli. Nia ingin sekali mengubah sifat sahabatnya itu. Ia ingin Elena tidak terlalu terobsesi pada sesuatu, dan melupakan hal yang seharusnya lebih penting dari itu. “Kamu tuh bengong terus! Gak dengerin Romi ngomong ya?” Tanya Nia. “Elah, ini aja aku lagi ngeliatin dia ngomong, Ni.” “Tapi pasti kamu gak dengerin apa yang dia bilang kan? Ayolah Len, kamu boleh liatin dia sesukamu, tapi dengerin juga dong apa yang dia bilang. Kan itu gak kalah penting juga.” Mendengar celotehan Nia yang begitu mengusik perhatiannya terhadap Romi, Elena hanya menatap Nia sinis dan pergi menjauh dari Nia agar ia bisa memperhatikan Romi dengan jelas. Nia hanya bisa bersabar menghadapi sahabatnya yang sedang jatuh cinta yang sangat ‘berlebihan’ itu.
"Assalamualaikum, Bunda!” Teriakan Elena memenuhi seisi rumahnya. “Iya nak, sudah pulang? Ayo makan dulu sini, sama bunda dan Tia!” Sahut bunda Elena.Mendengar perkataan bundanya, elena segera saja menuju meja makan dan makan bersama bunda dan adiknya. “Nak, gimana sekolahnya tadi , lancar? Ada masalah gak?” Bunda bertanya lembut. “Gak ada bun, biasa aja.” Sahut Elena datar. Bunda hanya tersenyum. Ia tahu anaknya sedang berbohong, bunda tahu bahwa Elena sedang jatuh cinta, walaupun Elena tidak mengatakannya. Setelah menyesaikan makannya, Elena segera pergi ke kamarnya tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada bunda dan adiknya.
Di dalam kamar, Elena kemudian membuka laptopnya dan mulai mencari informasi terbaru tentang Romi. Mulai dari Facebook, Twitter, Path, Instagram, dan semua akun sosial media milik Romi dijejalah oleh Elena. Alhasil, Elena menjadi sangat kesal karena Romi selalu saja menulis status tentang hubungannya dengan Kesha—pacarnya yang semakin hari hubungan mereka semakin erat dan romantis. Dengan hati yang memanas, Elena mulai memikirkan hal licik, mengusir Kesha dari hidup Romi, dan menggantikan posisi Kesha—sebagai pacar dari Romi.
Keesokan harinya, saat Elena berjalan melewati koridor sekolah, ia berpapasan dengan Kesha. Karena merasa sudah dikalahkan oleh Kesha, Elena pun meluapkan amarahnya. Ia mencoba untuk menyandung Kesha dengan kakinya, dan ia berhasil. Kesha jatuh tersungkur di lantai dan meringis kesakitan. Elena tersenyum penuh kemenangan. Tapi itu hanya berlangsung sebentar. Tiba-tiba Romi datang dan menolong Kesha untuk bangkit. “Kamu! Kenapa sih gak bantuin Kesha? Kamu yang nyandung Kesha kan? Ayo minta maaf!” Kata-kata Romi membuat Elena semakin kesal. Ia kemudian menangis dan meninggalkan Romi yang terlihat sama marahnya.
“Kamu kenapa Len? Kok nangis?” Tanya Nia khawatir. “Romi Ni… Romi…” Ucap Elena sambil terisak. Sebenarnya Nia mengetahui apa yang terjadi, ia melihatnya dari kejauhan. Namun Nia tak mengatakan apapun, ia mencoba untuk mendengarkan pengutaraan Elena. “Dia, kenapa sih dia selalu belain Kesha? Siapapun boleh di bela, tapi jangan Kesha!” Elena makin menjadi. Ia tak dapat lagi menahan amarahnya yang kian memuncak. “Ni, sekarang kamu jangan ngalangin aku lagi! Aku udah gak tahan lagi, aku mau balas perbuatan Kesha yang udah ngerebut apa yang harusnya aku miliki, bukan dia!” Belum Nia mengatakan apapun, Elena langsung meninggalkannya sendiri. Nia tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya terhadap sahabatnya itu. Dan ia pun menuruti apa yang dikatakan Elena—tidak menghalagi dan mengganggunya lagi—tak akan pernah lagi.
Di rumah, Elena sama sekali tidak mau berbicara pada siapapun. “Kak, kakak kenapa sih? Cerita dong sama aku, biar kakak plong gitu…” Bujuk Tia. “Kamu gak usah ngatur-ngatur kakak ya! Terserah kakak dong, mau gimana! Udah sana pergi aja!” Elena berteriak tepat di telinga Tia. Tia merasa sakit hati, kemudian ia memberitahukannya kepada bunda dan ayahnya.
“Elena… kamu kok gitu sih sama adik sendiri? Kasian tuh adik kamu telinganya sampai mendengung dan nyut-nyutan…” Nasehat ayah lembut. “Yah, dia tuh udah gangguin Elena! Udah ah, jangan ganggu Elena lagi! Ayah sama bunda juga gak usah urus-urus Elena lagi! Elena bisa sendiri kok!” Suara Elena menggelegar ke seluruh ruangan rumahnya. Kemudian ia menangis sambil berlari menuju kamarnya. “Udah yah, biarkan aja Elena. Kita biarkan dia melakukan semuanya sendiri. Dia pasti akan sadar dengan sendirinya.” Kata-kata bunda meluluhkan ayah yang juga ikut marah karena sikap Elena yang tidak sopan kepada ayah dan bundanya.
Di hari selanjutnya, Elena datang ke sekolah bersiap dengan serbuan kata-kata mautnya yang akan ia berikan kepada Kesha agar Kesha menjauhi Romi dan memberikan Romi sepenuhnya kepada dirinya.
“Kesha! Kamu tau gak sih, Romi itu buat siapa? Asal kamu tahu ya, aku udah ngejar Romi dari lama, tapi kenapa dia malah milih kamu? Aku gak terima! Pokoknya kamu harus jauhin Romi, biar aku yang gantiin kamu, karena aku lebih pantas daripada kamu!” Ucapan Elena tak membuat Kesha gentar. Ia ikut kesal karena Elena sudah menyandungnya dan membuat kakinya terluka, bahkan tidak meminta maaf. “Eh, ya terserah Romi dong mau pilih siapa! Kalo dia milih aku ya kamu harusnya ikhlas dong!” Balas Kesha tak kalah ketus. Sebelum mereka memulai perkelahian lebih jauh, Romi kemudian datang. Ia mendengar berita pertengkaran Elena dan Kesha dari teman-temannya yang kebetulan melihat mereka. “Stop! Kalian nih apa-apaan sih? Ini sekolah, dan bukan tempatnya untuk berkelahi! Elena, mendingan kamu pergi sekarang, aku udah muak sama semua sikap tidak sopanmu itu! Kenapa sih, kamu selalu ngejar-ngejar aku? Aku kan sudah bilang pilihanku ada di Kesha, bukan di kamu! Lebih baik kamu pikirkan keluarga sama sahabatmu aja!” Kalimat terakhir yang dikatakan Romi membuat Elena tersadar. Selama ini ia sudah melupakan keluarga dan sahabatnya demi orang yang jelas-jelas tak membutuhkannya sama sekali. Elena sadar bahwa tak ada yang lebih penting di dunia ini selain keluarga dan sahabat yang disayanginya. Ia pun segera menjauh dari kerumunan orang yang menyaksikan perkelahiannya dengan Kesha, dan pergi menuju taman sekolah.
Di taman, Elena mulai merenungi perbuatannya selama ini. Semenjak ia menyukai Romi, hidupnya berubah. Ia mulai tidak peduli pada lingkungan di sekitarnya, bahkan keluarga dan sahabatnya ia acuhkan begitu saja. Ia menjadi gadis yang individual dan tidak mau berinteraksi dengan keluarga dan sahabatnya lagi. Elena tersadar bahwa selama ini yang ada di kepalanya hanyalah seseorang yang bahkan tidak pernah memikirkannya sekalipun. Sebaliknya, orang-orang yang selalu memikirkan dan menghawatirkannya ia tak peduli sama sekali. Hati Elena kini terbuka. Ia ingin segera memperbaiki semua kesalahan yang telah ia perbuat. Ia tak mau lagi mengecewakan orang-orang yang menyayanginya dengan tulus.
Sesaat setelah ia merenungi perbuatannya, tanpa sengaja ia melihat Nia. “Niaaaaa… Nia!” Panggil Elena kepada Nia yang sedang duduk di salah satu kursi taman sekolah. “Oh, kamu Len. Kenapa? Aku sibuk nih, kalo hal yang mau kamu omongin, gausah ya. Aku mau cepet-cepet pergi nih.” Kata Nia, mencoba untuk menjauhi Elena. “Duh Nia, maksudku bukan kayak gitu. Aku mau minta maaf sama kamu. Karena aku udah ngelupain kamu, jahatin kamu. Aku mau kita temenan lagi, sahabatan lagi. Aku sadar, laki-laki itu gak lebih dari sekedar pelengkap hidup aja, sementara sahabat adalah makanan pokok dalam hidup. I need you, friend!” ucap Elena sambil menangis. Nia yang awalnya memancarkan aura kesedihan dari matanya, kini menjadi aura kebahagiaan yang nyata. Ia tak menyangka Elena berubah secepat ini. Ia memeluk Elena erat. “I need you more, my best friend…” Balas Nia lembut. “Promise?” “Yes, I promise, full of my heart…” Merekapun bergandengan kelingking, tanda bahwa mereka akan terus menjalin hubungan sebagai sahabat.
Sepulangnya dari sekolah, Elena segera menemui keluarganya. “Ayah, bunda, Tia… Elena minta maaf ya… kalo selama ini Elena udah bersikap tidak sopan sama kalian, Elena menyesal… Elena janji gak akan ngulanginnya lagi. Maafin Elena ya…” Elena berkata dengan sangat lebut dan tulus. Ayah, bunda, dan adik Elenapun tersenyum bersamaan. “Tidak apa-apa Len… Ayah yakin kamu akan sadar, dan ayah juga yakin kamu tidak akan melanggar janjimu itu. Jangan patahkan kepercayaan ayah ya nak…” Elena kemudian menangis. Ia terharu karena sahabat dan keluarganya begitu baik kepadanya, mengapa ia tak menyadarinya sejak awal? Ia berjanji kepada dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan mengecewakan orang-orang yang disayanginya lagi, terlebih karena hanya satu masalah yang sangat sepele. Ia akan mengubah semuanya, agar ia tidak mengecewakan mereka lagi, orang-orang yang telah membuatnya seperti sekarang.







Comments